HUKUM BAYI TABUNG/INSEMINASI BUATAN MENURUT ISLAM

bayi-tabung2-ts-dpn

Kalau kita hendak mengkaji masalah bayi tabung dari segi hukum islam maka harus dikaji dengan memakai metode ijtihad yang lazim dipaki oleh para ahli ijtihad, agar hukum ijtihadi-nya sesuai dengan prinsip-prinsip dan jiwa al-Qur’an dan sunnah yang menjadi pegangan umat islam.

proses bayi tabung

Bagan-bayi-tabung

Bayi tabung/inseminasi buatan apabila dilakukan dengan sel sperma dan ovum suami istri sendiri dan tidak ditransfer embrionya ke dalam rahim wanita lain termasuk istrinya sendiri yang lain(apabila berpoligami) maka islam membenarkan, baik dengan cara pembuahan di dalam ataupun diluar(tabung) asalkan keadaan dan kondisi suami istri yang bersangkutan benar-benar memerlukan cara inseminasi buatan untuk memperoleh anak, karena berbagai macam alasan. Hal ini sesuai dengan kaidah hukum fiqh:

• الحاجة تنزل منزلة الضّرورةِ

• الضّرورة تبيح المحظوراتِ

“hajat/keberuntungan yang sangat penting diperlakukan seperti dalam keadaan terpaksa. Dan keadaan yang darurat itu membolehkan melakukan hal-hal yang terlarang”

Sebaliknya apabila inseminasi buatan itu dilakukan dengan bantuan donor sperma dan ovum maka diharamkan dan hukumnya sama dengan zina. Dan sebagai akibatnya anak hasil inseminasi buatan tidak sah dan nasabnya hanya berhubungan dengan ibu yang melahirkan. Dalil yang mengharamkan:

لا يحلّ لامرئ يؤمن باالله واليوم الاخر أن يسيقَي ماءه زرع غيرهِ (رواه الترمذي و ابو داود)

Tidak halal bagi seorang yang beriman pada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain (istri orang lain)

Pada zaman imam-imam mazhab masalah bayi tabung/inseminasi buatan belum timbul, sehingga kita tidak memperoleh fatwa hukumnya. Maka mengacu pada ayat di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa inseminasi buatan atau bayi tabung dengan sperma atau ovum donor hukumnya haram, karena bukan merupakan sperma dan ovum dari suami istri yang sah. Maka sama saja dengan zina. Kaidah hukum fiqh berbunyi:

درء المفاسد مقدّم علي جلب المصالح

“Menghindari madharat (bahaya) harus di dahulukan atas mencari maslahah”

Kita dapat memaklumi bahwa inseminasi buatan/bayi tabung dengan donor sperma dan ovum lebih mendatangkan mudharat dari pada maslahah. Maslahahnya adalah dapat membantu sepasang suami istri yang keduanya atau salah satunya mandul atau ada hambatan medis. Namun, mafsadahnya jauh lebih besar, antara lain sebagai berikut:

1. Percampuran nasab, padahal islam sangat menjaga kemurnian nasab, karena ada kaitannya dengan ke-mahram-an (siapa yang halal dan siapa yang haram dinikahi) dan kewarisan;

2. Bertentangan dengan sunnatullah atau hukum alam;

3. Inseminasi dengan donor sperma dan ovum pada hakikatnya sama dengan zina karena terjadi percampuran sperma dan ovum tanpa perkawinan yang sah;

4. Kehadiran anak hasil inseminasi buatan bisa menjadi sumber konflik rumah tangga, terutama bayi tabung dengan donor merupakan anak yang unik yang dapat berbeda sekali bentuk dan sifat-sifat fisik dan karakter/mental si anak dengan bapak ibunya;

5. Anak hasil inseminasi buatan/bayi tabung yang percampuran nasabnya terselubung dan sangat dirahasiakan donornya adalah lebih jelek dari pada anak adopsi yang pada umumnya diketahui asal nasabnya;

6. Bayi tabung lahir tanpa proses kasih sayang yang alami, terutama bagi bayi tabung lewat ibu titipan yang harus menyerahkan bayinya kepada suami istri yang punya benihnya, sesuai dengan kontrak, tidak terjalin hubungan keibuan dengan anak secara alami.

Dalam pasal 42 UU perkawinan No. 1/1974 “Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah”

KESIMPULAN DAN HARAPAN

1. Inseminasi buatan dengan sperma dan ovum dari suami istri yang sah dan tidak di transfer embrionya ke dalam rahim wanita lain(ibu titipan) diperbolehkan islam jika keadaan dan kondisi suami istri yang bersangkutan benar-benar memerlukan

2. Inseminasi dengan sperma atau ovum donor diharamkan islam, hukumnya sama dengan zina

3. Pemerintah hendaknya melarang berdirinya bank nuthfah/sperma dan ovum untuk pembuatan bayi tabung karena selain bertentangan dengan pancasila UUD 1945 juga bertentangan dengan norma agama dan moral, serta merendahkan harkat manusia sejajar dengan inseminasi pada hewan yang tanpa perkawinan

4. Pemerintah hendaknya hanya mengizinkan dan melayani permintaan bayi tabung dengan sel sperma dan ovum suami istri tanpa di transfer ke dalam rahim ibu titipan, dan pemerintah hendaknya melarang keras dan memberi sanksi-sanksi kepada dokter dan siapa saja yang melakukan inseminasi buatan dengan sperma dan ovum donor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s